MATAKULIAH ARSITEKTUR KOTA
ARSITEKTUR KOTA MALANG
“ Teori English Partnerships ”
Di susun Oleh :
IDHAM A. GANI
Dosen Pembimbing :
Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MTA
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG
FAKULTAS TEKNIL SIPIL DAN PERENCANAAN
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
2011
KATA PENGANTAR
Arsitektur Belanda, sebagai sebuah kesadaran membangun, sejak awal ke-19 arsitektur belanda sudah memasuki wajah indonesia, dimana masyarakat menyebut atau mengenalnya sebagai bangunan kolonial. Melihat arsitektur kolonial melulu pada wajahnya adalah hal yang sulit terutama pada aspek keindahannya, seseorang akan selalu mendapatkan kesan atau adanya unsur pemaksaan bentuk asing ke suatu situs yang tak mempunyai kekuatan untuk menahannya. Pada arsitektur kolonial ini juga tidak dapat dipungkiri bahwa ada pengaruh pemikiran-pemikiran Cina, Hindu, Muslim, maupun tradisi vernakular indonesia.
Ketika para arsitek hadir di tanah asing yang tertindas, cara-cara mereka mentransformasi bentuk untuk menjadi struktur yang lebih cocok dengan iklim dan kondisi geografi, cocok dengan material lokal dan cara membangunnya, serta cocok dengan budaya dan gaya lokal akan menghasilkan bangunan yang tetap saja banyak atau kalau tidak justru mempresentasikan negara asal para arsitek ini dididik.
Walaupun demikian, kita juga semakin memahami bahwa tidak ada tradisi arsitektur yang monolitik. Tidak ada cara membangun “autentik” yang digusur oleh arsitektur ini. Satu-satunya kebenaran adalah bangunan vernakuler merupakan naungan yang dibangun dari material setempat, dan bahkan teknik yang didatangkan dari daerah lainpun sering kita pikir sebagai desain yang “alami”. Dalam kasus Arsitektur Belanda di Indonesia, kita sekarang memahami bahwa apa yang kita anggap sebagai kanon (standar norma) Belanda pada kenyataannya adalah koleksi yang didatangkan dari Jerman, Prancis dan bahkan lebih jauh lagi, sementara arsitektur Indonesia juga koleksi yang sama dari Cina, Melayu, India dan elemen dari barat. Sesungguhnya pencampuran, trasformasi dan adaptasi dari berbagai pendatangan itulah yang membuat arsitektur mempunyai kekuatan. Tak terlepas dari isu kekuasaan, yang khususnya dimiliki karya kolonial. Arsitektur selalu dibangun dari tumpang tindih status quo politik, ekonomi, sosial, sebagai pengampu kekuasaan dan penjaga sistem yang mempunyai alat untuk membangun sesuatu yang lebih daripada sekedar sebuah lapak dan mencari cara untuk memperteguh kekuasaannya di tempat tersebut melalui arsitektur. Melihat arsitektur, kita dapat melihat kalau melihat dengan cukup cermat untuk mengerti asal muasal hubungan kekuasaan itu dan mungkin bahkan mengubahnya melalui arsitektur.
l
PEMBAHASAN
BAB I
PERANAN DAN KETERKAITAN KAWASAN
Masing-masing masyarakat di kepulauan Indonesia terutama di kota Malang mempunyai satu atau beberapa tipe dimana salah satunya adalah bangunan tradisional yang mempunyai keunikan tersendiri yang dibangun berdasarkan tradisi-tradisi arsitektur vernakuler dan langgam bangunan tertentu. Sebagai hasilnya, lingkungan binaan di kota Malang menunjukan keberagaman yang cukup berkesan. Lingkungan binaan di kota Malang saat ini mempresentasikan beberepa arsitektur dan langgam bangunan yang luar biasa serta variasi yang besar pada cara membangun. Tradisi arsitektur di kota Malang diwakili oleh banyak tipe, dari bangunan vernakuler, tradisional, kolonial belanda dan jenis bangunan yang mempresentasikan khazana cara-cara pendekatan membangun yang luas.
A. Linkage masing-masing kawasan
Di daerah ijen kota malang terdapat linkage linear dua arah yang berlawanan yang berupa jalan besar dimana pada bagian tengah jalan terdapat boulevard yang cukup besar yang menghubungkan antara kawasan satu ke kawasan lain atau sebaliknya yang dinamakan sebagai jalan Ijen. Linkage ini sendiri memiliki panjang 2 km yang berdiri sejak tahun 1925 yang dibangun setelah alun-alun bunder yang berada dipusat kota dan jalan ijen menjadi salah satu objek yang begitu estetik didampingi dengan bangunan-bangunan kolonial belanda dan sangat dikenal oleh warga kota Malang terutama warga disekitar ijen. Berdirinya jalan Ijen ini dibentuk untuk mempertahankan nuansa kolonial yang ada disekitar Malang terutama ijen sehingga disepangjang jalan ijen dipenuhi oleh bangunan-bangunan kolonial.
Jalan ini menjadi sebuah linkage kawasan ijen karena menghubungkan keseluruhan kawasan bangunan kolonial ijen dan menjad senjata dalam menunjang per-ekonomian kota malang.
Ijen terkenal bukan karena keindahan dari jalannya namun jalan ijen merupakan tempat dimana disetiap tahunnya diadakan festival malang tempo doloe yang sering kita dengar Malang Tempo Doloe. Festival ini sudah berjalan selama lima periode dari tahun 2006 dimana tiap tahunnya memiliki tema yang berbeda-beda namun nuansa dan keanekaragaman didalamnya masih tetap sama. Hal ini dilakukan agar warga malang dan warga asing mengenal dan tetap mengingat budaya dan karakteristik kota malang.
| Perumahan Ijen sebelah barat |
| Perumahan Ijen sebelah barat |
| Jalan Ijen dari arah utara ke selatan |
| Perumahan Ijen sebelah timur |
Peta Kawasan Sepanjang Jalan Ijen
Kecamatan Klojen
Bukan hanya nilai historisnya saja, jalan ijen juga memiliki keistimewaan dimana pada bagian tepian jalan ditumbuhi vegetasi berupa pohon palem yang dimensinya cukup besar di bagian kiri dan kanan jalan, dibagian tengah atau boulevard juga terlihat seprti taman kecil berukuran panjang yang ditumbuhi beberapa jenis bunga sehingga menambah nilai keindahannya. Bukan hanya jalan ijen itu sendiri, disepanjang jalan ijen pun terdapat bangunan kolonial yang beraneka ragam jenis dan bentuknya sehingga saat memasuki wilayah tersebut ada rasa terkejut dan berkesan.
Selain jalan Ijen sendiri, salah satu yang menjadi linkage pusat merupakan alun-alun kota, dimana linkage ini menjadi satu pusat tujuan dari lima kawasan atau kecamatan yang ada di kota Malang. Alun-alun kota juga berada di tempat pusat keramaian dimana menjadi pusat perdagangan atau perbelanjaan untuk warga sekitar malang.
Alun-alun kota ini merupakan kawasan dimana bangunan-bangunan yang ada disekitarnya mengitu era perkembangan zaman atau arsitektur eropa. Di daerah kayutangan ini sendiri memiliki saingan dengan perempatan alun-alun tugu yang memiliki bentuk bunder.
| K3 |
| Kec. Klojen |
| K1 |
| Kec. Blimbing |
| K4 |
| Kec. Sukun |
| K5 |
| Kec. Ked. Kandang |
| Kec. Lowokwaru |
| K2 |
Linkage kawasan Ijen masa lalu “jalan Ijen”
Linkage kawasan kayutangan masa lalu seiring berkembangnya zaman di kota Malang “alun-alun kota”
Linkage kawasan kota baru masa lalu “alun-alun tugu”
Pada mulanya alun-alun utama berada dipusat kota yaitu alun-alun kota, namun seiring berkembangan zaman pusat pemerintahan dipindahkan di kawasan kota baru, sehingga dibuat alun-alun tugu “bunder” yang menyaingi alun-alun kota. Dikatakan sebagai linkage utama bukan karena menjadi pusat pemerintahan saja, dan struktur dari alun-alun tugu ini menghubungkan beberapa kawasan ke satu titik pusat seperti halnya alun-alun kota. Dengan nuansa kolonial yang tetap ada alun-alun tugu ini sendiri mempunyai karakterisitik dan nilai historis tersendiri.
B. Fungsi masing-masing blok kawasan
Peta Malang
| Kecamatan Blimbing |
| Kecamatan Lowokwaru |
| Kec. Sukun |
| Kec. Klojen |
| Kecamatan Kedungkandang |
Kawasan Tiap Kecamatan
Di daerah kota malang yang memiliki lima kecamatan terutama Kecamatan Klojen dimana menjadi daerah pusat pendidikan memiliki struktur pendaerahan yang cukup kuat. Sedangkan kecamatan sukun merupakan area perdagangan yang sudah sejak lama berdiri terutama di kawasan kota lama, daerah kawasan kota lama lebih banyak ditempati oleh masyarakat yang berekonomi lemah sehingga dari segi face terdapat banyak bangunan kumuh disekitar wilayah stasiun kota lama atau ditempat lainnya. Untuk kecamatan kedung kandang merupakan tempat dimana terdapat area taman yang menjadi tempat wisata dan daerah perumahan, namun kecamatan kedung kandang ini sendiri masih memiliki banyak lahan kosong yang dijadikan sebagai lahan cocok tanam warga sekitar, hal ini dikarenakan kecamatan ini merupakan kawasan terluas dari kecamatan lainnya dan jauh dari pusat kota. Begitu pula dengan kecamatan lainnya yang lebih banyak dibangun perumahan yang ditempati oleh warga setempat.
BAB II
KAWASAN BERDEKATAN
A. Tata guna lahan
Peta Malang
| Kec. Sukun |
| Kec. Klojen |
| Kecamatan Kedungkandang |
| Kecamatan Blimbing |
| Kecamatan Lowokwaru |
Kawasan Tiap Kecamatan
Dibeberapa kawasan di kota Malang terutama tiap kecamatannya memiliki lahan guna yang dibangun dengan fungsi dan karater masing-masing. Di kota malang sendiri terdapat banyak bangunan-bangunan lama ataupun baru yang dibangun dengan fungsi lahan di tiap kawasan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, meskipun sebagian kecil masih ada yang mengabaikan peraturan tersebut. Tata guna lahan ini hampir memiliki persamaan dengan fungsi blok kawasan, namun tata guna lahan ini lebih mendetail dengan wujud visual yang telah berdiri di kota Malang. Dari tata guna lahan yang ada di kota malang memiliki banyak fungsi dimana salah satunya adalah :
a. Kawasan Perdagangan dan Jasa
Salah satu kawasan perdagangan terbesar yang ada di Kota Malang terdapat di kawasan Kayutangan yang warga sekitar kenal sebagai pasar besar. Pasar besar yang dikenal berada dekat dengan alun-alun kota sangat berperan penting bagi masyarakat kota malang.
Gambar di atas merupakan gambaran perkembangan kota yang ada di alun-alun kota dengan aktifitas warga yang berada di pasar besar kota malang yang terlihat ramai sampai saat ini dapat membantu perekonomian yang ada di kota Malang
Selain pasar besar di kawasan kayutangan masih banyak perdagangan lain yang dibangun di kawasan-kawasan kecil kecil seperti halnya salah satunya di kawasan Kota lama yang sampai saat ini masih berdirinya tokoh-tokoh ruko yang cukup ramai di datangi oleh warga sekitar.
b. Kawasan Pendidikan
Kota malang yang kita kenal sebagai kota pendidikan memang benar adanya, salah satu kawasan yang mempunyai banyak bangunan pendidikan dari SD, SMP, SMA dan Universitas terdapat di kawasan jalan Veteran kecamatan Lowokwaru. Bukan hanya di kawasan jalan veteran, dibeberapa lokasi masih banyak bangunan pendidikan lainnya yang masih termasuk daerah kecamatan lowokwaru yang cukup berdekatan dengan kawasan ini.
“Beberapa Bangunan Di Kawasan Jalan Veteran”
Institut Teknologi Malang Jalan Sigura-gura No.2
Universitas Brawijaya berada di Jalan Veteran
SMK 2 Negeri Malang berada di Jalan Veteran
SMA Negeri 8 Malang dan SMPTN 4 Negeri Malang yang mempunyai satu lokasi yang sama, berada di Jalan Veteran
Universitas Negeri Malang masi berada di kawasan jalan Veteran
Madrasah Aliyah 3 Negeri Malang, Jalan Bandung
Universitas Muhamadiyah Malang, Jalan Bandung
Madrasah Aliyah 3 Negeri Malang, Jalan Simp. Balapan
c. Kawasan Pemerintahan
Kawasan pemerintahan yang dulunya berada di alun-alun kota kini dipindahkan di kawasan kota baru yaitu kecamatan klojen dimana terdapat alun-alun tugu bunder dengan kantor balai kota dan bangunan-bangunan pemrintahan lainnya.
kondisi pemerintahan sejak era kolonial belanda yang telah berperan keras dalam pembangunan pemerintahan kota malang.
Pusat pemerintahan di kawasan alun-alun tugu
d. Open Space dan Ruang Terbuka Hijau
Salah satu ruang terbuka hijau Malabar yang berada di Kawasan Ijen Kecamatan Klojen
Salah satu ruang terbuka hijau berbentuk yang berada di Kawasan Jalan Jakarta Kecamatan Lowokwaru
Open space kota Malang “Rampal”
B. Skey line bangunan di beberapa kawasan sudut-sudut kota
Gambar di atas merupakan salah satu bangunan kembar yang berada di jalan Arjuno kecamatan Klojen yang berada di sudut jalan perempatan.
Salah satu angunan kembar yang bersampingan dengan bangunan yang memiliki fasade yang sama dengan bangunan seberangnya yang berdiri ditempat sudut yang berbeda.
Tepatnya di jalan jaksa agung suprapto yang masih termaksud kawasan kayutangan, deretan tiap bangunan-bangunan mempunyai ketinggian yang hampir sama namun beberepa kriteria di kawasan ini tepatnya di bangian sudut jalan memiliki satu bentuk yang yang masih menyatu dengan bangunan inti memiliki ketinggian yang lebih tinggi dari tinggi bangunan inti dengan dimensi yang cukup kecil yang berbentung seperti balok vertikal. Sehingga skey line dari satu titik linear ini terdapat perbedaan ketinggian yang dibentuk agar memberi ciri tersendiri pada bangunan sudut.
Bang.sudut bangunan bangunan tengah bangunan sudut
Grafik bangunan sudut
Bangunan sudut bangunan sudut
Bangunan tengah
Daerah kawasan kayutangan memiliki kriteria bangunan sudut yang lebih berdimensi besar dan tinggi dari bangunan-bangunan yang masih satu garis didalamnya termasuk daerah alun-alun yang terdapat gereja khas kolonial yang terdapat di sudut jalan dekat alun-alun kota yang juga memiliki dimensi yang cukup besar.
Gereja Ijen
Di kawasan jalan ijen terdepat gereja ijen yang berada disudut jalan dengan dimensi yang berukuran besar yang memiliki ciri khas bangunan belanda yang berada di kecamatan Klojen.
Gambar-gambar diatas merupakan bangunan kolonial kecuali gedung perpustakaan umum sebelah kiri, memiliki ketinggian bangunan yang hampir sama sepanjang jalan ijen. Disepanjang jalan Ijen dengan bangunan-bangunan kolonial hampir rata-rata memiliki ketinggian yang sama, namun satu-dua bangunan masih ada yang memiliki ketinggian yang berlantai dua di tiap penggalan jalan ijen maupun di tengah-tengah deretan bangunan sekitar ijen.
Pada penggalan jalan ijen terdapat bangunan perpustakaan yang memiliki dimensi yang cukup besar seperti bangunan gereja Ijen, namun di titik ujung akhir jalan ijen pada bangian sudut jalan ketinggian bangunannya memiliki ketinggian yang hampir sama dengan bangunan lainnya. Dapat diketahui bahwa grafik pada skey line di kawasan ijen meiliki ketinggian yang berbeda-beda.
Gereja ijen bangunan tenga perpus. umum
Grafik bangunan sudut
Bang. sudut bang. sudut
Bang.tengah bang. sudut
Dapat dilihat dengan beberapa kondisi yang ada ditiap konsdisi tiap sudut jalan yang kawasannya cukup berperan di kota Malang memiliki karakter tersendiri ditiap bentuk yang ada, seperti ada penambahan ketinggian bangunan yang menjadi salah satu khas bangunan sudut dan memiliki dimensi yang cukup besar seperti halnya bangunan gereja ijen, gereja kayutangan, dan gedung sarinah dan masih banyak lagi bangunan sudut lainnya yang menjadi garis skey line ditiap penggal jalan.
C. Serial vision pada beberapa penggal jalan di kawasan kota Malang
Terdapat serial-serial yang memiliki runtutan yang cukup menarik terdapat di stasiun kota baru jalan Turnojoyo menuju ke arah barat jalan semeru.
Saat melewati jalan turnojoyo akan dotemukannya jalan kembar dan stasiun kota baru yang cukup menarik dengan pandangan yang luas dan bangunan-bangunan serta pepohonan yang ada disekitarnya. Setelah itu akan terdapat serial tugu yang menjadi alun-alun tugu bunder utama kota Malang dan gedung kembar yang ada di jalan Semeru yang dikenal dengan Menara kembar.
Jika menuju arah museum brawijaya yang merupakan terusan dari jalan semeru akan terlihat panorama terakhir yang sangat indah dengan mata telanjang yang merupakan gunung “Putri tidur” rangkaian dari gunung kawi, arjuno, panderman dan gunung kelud.
Menara Kembar dan Gunung Putri Tidur
BAB III
WARISAN DAN SEJARAH
Selama periode akhir prasejarah (kira-kira sejak tahun 10.000 SM hingga tahun 200 M), suku-suku kecil yang ada di berbagai wilayah nusantara terbentuk karena kesamaan-kesamaan dalam kepercayaan kuno mereka. Di bawah kepemimpinan kepala suku, mereka merancang dan menjalankan ritual-ritual penyembahan, bercocok tanam dan beternak, mengembangkan sistem pengairan dan mulai melakukan perdagangan jarak jauh. Selain kapak perunggu dan genderang untuk upacara, gelang dan kalung batu, lukisan dinding gua, perkakas kayu dan pahatan batu, orang-orang ini membuat makam dari batu, situs megalitik berteras, atap pelana kuda sederhana, konstruksi runmah kayu, dan arsitektur yang disesuaikan dengan iklim. Zaman ini menjadi saksi kemunculan bangunan vernacular (setempat) dan tradisi bermukim orang-orangnya.
A. Sejarah perkembangan kota Malang
Perkembangan kota di Indonesia mempunyai kecenderungan menghilangkan ciri “identitas”- nya, sehingga kota-kota kita kehilangan karakter spesifiknya yang memunculkan “ketunggal- rupaan” arsitektur kota (Eko Budiarjo,1982). Hal ini disebabkan oleh diabaikannya aspek kesejarahan pembentukan kota sehingga kesinambungan sejarah kawasan kota seolah terputus sebagai akibat pengendalian perkembangan yang kurang memperhatikan aspek morfologi kawasan, demikian halnya dengan kota Malang. Sebagai kota yang berkembang dari cikal bakal kota kolonial Belanda, Malang syarat akan bentukan fisik (tata lingkungan, bangunan), yang mempunyai nilai historis dan arsitektur yang dapat menjadi bukti pernah populer suatu mahzab tata kota dan arsitektur tertentu (masa kolonial) yang dapat diangkat sebagai karakter spesifik kawasan kota Malang.
Perkembangan kota Malang tidak terlepas pasang-surut perkembangan kehidupan sosial-budaya, ekonomi, dan politik yang melatar belakanginya. Dari catatan sejarah kota Malang (50-tahun kotapraja Malang), disebutkan bahwa di Malang pernah ada kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-VIII , hal ini diketahui dari diketemukannya prasasti Dinoyo yang berangka tahun 682 caka (Nayana Vasurasa).
Pengaruh-pengaruh kerajaan besar di Jawa seperti Majapahit dan Mataram juga memberikan peran dalam perkembangan Kota Malang. Sebelum pemerintahan Belanda masuk kota Malang (1767), Malang dipimpin oleh Adipati Moloyo Kusumo.
Setelah Belanda menguasi Malang, kemudian mendirikan pertahanan di sekitar kali Brantas yang selanjutnya mulai membangun Loge (lodji) sebagai tempat tinggal orang Balanda, sehingga daerah tersebut dikenal dengan nama “Klodjen”, dari kata “Kalodjian”.
B. Jenis-jenis pemukiman atau kampung-kampung kota
Jenis pemukiman di kawasan Jalan Ijen
Seiring berkembangnya jaman di Indonesia semakin tinggi pula teknologi yang yang berada terutama di kota Malang, salah satu nilai dan ciri khas yang sampai saat ini masih terjaga keistimewaannya dan nilai estetiknya yaitu kawasan jalan ijen yang memiliki jenis kawasan bangunan colonial.
Jenis pemukiman di kawasan kawasan kampung-kampung kota
Di daerah kota malang kawasan yang memiliki ciri khas kota malang sendiri adalah kawasa jalan ijen, dimana terdapat bangunan-bangunan colonial yang sampai saat ini keindahannya masih terjaga tanpa merubah bahan walau teknologi terus berkembang, sedangkan pada kawasan kampung-kampung kota yaitu di daerah embong brantas dan muharto merupakan kawasan bangunan vernacular (setempat) dimana menggunakan bahan-bahan tradisional, seperti atap genteng dan bahan dinnding dari tanah yang mereka sebut bahan batu-bata, namun sedikit dari bangunan-bangunan disekitar kawasan tersebut masih ada ornamentasi-ornamentasi kecil yang masuk dalam cirri khas colonial seperti halnya jendela-jendela kecil yang menempel pada dinding-dinding bangunan warga setempat. Dapat kita ketahui bahwa tipe kawasan di daerah kota malang masih belum sangat sempurna dikarenakan masih banyak percampuran dari jenis bangunan yang ada didalamnya, sehingga kawasan yang sangat mendominasi di sekitar kawasan kota Malang adalah bangunan kolonial.
C. Karakter budaya kota Malang
Seni dan budaya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas rutin di Kota Malang. Beberapa pertunjukkan seni sering kali digelar di setiap sudut kota. Di kota Malang masih banyak tumbuh kembang baik secara individu atau kelompok yang secara aktif berkarya untuk seni dan budaya. Dan sungguh prestasi yang membanggakan bagi Kota Malang karena pada tanggal 22 November 2008 kemarin, Kota Malang berhasil mempersembahkan sebuah sajian seni dan budaya di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Sebenarnya, acara yang diselenggarakan di Anjungan Jawa Timur TMII itu bukan pertama kalinya bagi kota Malang, namun acara kali ini merupakan sebuah pengalaman baru bagi Kakang dan Mbakyu 2008. Beberapa tarian dipersembahkan malam itu yaitu Tari Emban Edreg, yang menunjukkan pada orang yang mengapdikan dirinya kepada sang tuan dengan bakti, dan Tari Monel, yang terinspirasi oleh kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah Malang, yaitu Jaran Monelan dengan permainannya menggunakan properti mirip kuda yang terbuat dari anyaman. Dalam acara ini juga dipersembahkan sebuah sendratari yang berjudul SATRIO GARUDHO PINILIH. Sendratari yang menceritakan tentang Ken Arok ini merupakan inti dari acara Pesona Budaya Kota Malang.
Sebuah acara apik dan dikemas rapi hasil garapan dari Winarto, S.Sn itupun berhasil memikat para penontonnya. Bukan hanya dari penggemar seni dan budaya lokal tetapi juga para duta besar negara sahabat yang juga hadir. Sejumlah duta besar negara sahabat terlihat sangat menikmati acara tari-tarian yang disajikan. Bukan hanya tarian saja yang disuguhkan malam itu, pameran hasil kerajinan masyarakat Malang juga itu ditampikan sebagai satu kesatuan sajian apresiasi seni Kota Malang.
Batik memang sudah dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Batik sangat melekat pada budaya Indonesia. Batik pula yang menjadi tradisi bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang dan menjadi kebanggaan kita hingga saat ini. Kain batik yang sempat diklaim milik pihak lain sekarang ini mulai kembali diperebutkan oleh masyarakat Indonesia. Saat ini Indonesia-pun mulai gencar melakukan berbagi cara untuk melestari kembali kain batik yang memang asli khas Indonesia.
Dan seiring perjalanan waktu, batik di Indonesia mulai bervariasi. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki cirri khas batiknya masing-masing dan batik mempunyai jenis yang sangat beragam. Antara lain adalah batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Madura, dan Batik Kalimantan. Oleh karena itu, Kota Malang juga tidak mau tertinggal dalam usaha pelestarian batik. Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Malang pada Selasa (01/04/2008) yang lalu , Kota Malang mendapatkan kado istimewa berupa salah satu penambahan identitas yang menjadi ciri khas Kota Malang yaitu Batik Malang.
D. Jenis bangunan yang ada di beberapa kawasan kota Malang
Salah bangunan yang tidak lepas dari tradisional jawa adalah bangunan tradisional jawa itu sendiri dimana bangunan ini sangat sulit untuk ditemukan di daerah kota Malang dikarenakan banyaknya perubahan-perubahan di tiap zaman yang mengubah pola pikir seseorang dalam membangun. Bangunan tradisional ini berada di daerah sawojajar kecamatan kedung kandang.
Pesatnya perkembangan yang berjalan di kota Malang tidak mengubah kualitas yang dimiliki oleh bangunan kolonial, bangunan ini merupakan salah satu jenis bangunan yang dipertahankan di kota malang karena memiliki nilai historis yang sangat mempengaruhi perkembangan kota malang. Masih banyak bangunan kolonial lainnya yang memiliki gaya tersendiri, seperti bangunan colonial style, bangunan kolonial versi jengki dan masih banyak lainnya.
Terdapat jenis bangunan yang begitu sulit untuk dklasifikasikan namun dari segi bentuk bangunan ini sendiri memiliki kriteria sebagai bangunan non style atau sederhana dimana dari segi fisik bangunannya pola pikirnya hanya untuk sebuah naungan saja dengan bahan yang sederhana yang banyak digunakan pada bangunan-bangunan yang berada di kota Malang. Bangunan-bangunan ini banyak ditemukan disekitar sungai brantas dimana warga yang berekonomi lemah.
Selain bangunan tempat tinggal di daerah kecamatan lowokwaru juga terdapat bangunan shopping centre yang memiliki jenis bangunan modern yang dalam fasade yang dimiliki mengikuti perkembangan teknologi dan pola pikir yang modern saat ini.
Jenis bangunan yang berada di kota Malang dapat dikatakan bervariasi dikarenakan terlalu banyaknya unsur-unsur dari luar yang terserap di kota malang sehinga banyaknya kombinasi antara jenis bangunan satu dan jenis lainnya. Seperti halnya gambar di atas, merupakan bangunan minimalis yang berdiri ditengah-tengah bangunan colonial atau juga lainnya yang sudah memiliki pola pikir modern akibat perkembngan zaman di Indonesia. Nilai-nilai historis mulai diabaikan sehingga tidak adanya acuan dari belakang ke depan untuk membangun.
Bangunan yang satu ini merupakan bangunan era kolonial namun memiliki style yang berbeda dengan bangunan kolonial lainnya. Tipe bangunan ini merupakan bangunan jengki dimana masa berdirinya fasade bangunan ini di zaman era belanda yang memiliki nilai dan unsur tersendiri didalamnya, namun bangunan ini masih disebut bangunan kolonial karena ornamentasi, fasade dan pola pada bangunan ini maupun unsur-unsur bangunan ini masih berbau colonial. Bangunan ini sendiri berada ditempat dimana bangunan-bangunan disekitarnya sudah berbaur dengar era modern yaitu di daerah kawasan ijen.
Kawasan ijen yang kita kenal sebagai kawasan kolonial belanda kini telah bercampur aduk dengan bangunan-bangunan baru yang berdiri sendiri dengan karakter tersendiri yang memiliki jenis bangunan minimalis style. Bangunan ini merupakan bangunan kantor ataupun sebuah usaha tokoh dimana telah berbaur dengan era modern saat ini. Telah banyak didapati bangunan-bangunan kolonial yang tidak layak ditinggali kini di bangun kembali bangunan-bangunan yang sama sekali tidak memiliki unsur kolonial, yaitu bangunan dimana mengitu era modern saat ini, hal ini banyak terjada di kawasan ijen, pelestarian yang dilakukan dikawasan ini mulai terabaikan dengan sikap-sikap yang memiliki pola pikir tersendiri yang mengikuti perkembangan teknologi di zaman sekarang.
Kawasan bangunan yang terlihat super megah yang memiliki sifat keagungan atupun kebesaran bisa kita temukan di daerah kawasan dieng, dimana kawasan ini merupakan tempat dimana orang-orang yang mempunyai karir yang menunjang. Salah satu bangunan yang mendominasi di kawasan dieng ini adalah bangunan yang memiliki jenis bangunan neo classic yang kita kenal sebagai arsitektur eropa. Bangunan ini sudah cukup lama berdiri di kawasan ini yang terus dijaga dan dipelihara fasade dan estetikanya. Tiap pergantian era bangunan ini juga dibuat penambahan-penambahan ornamentasi atau perubahan fasade untuk menambah nilai estetik dengan pola pikir new classic namun masih terlihat ciri khas dari fasade dan ornament-ornamennya tanpa mengubah gaya arsitektur eropa itu sendiri.
Dikota malang juga dibuat bangunan untuk mayoritas budha, cina atau mayoritas lainnya. Seperti halnya gambar di atas mrupakan bangunan doa yang lebih disebut klenteng untuk penganut budha yang arsitekturnya adalah bangunan oriental atau tionghoa. Bangunan ini hanya berada ditempat-tempat tertentu dimana penghuni yang tinggal disekitar bangunan ini lebih banyak ditinggali oleh penganut-penganut dari budha itu sendiri. Bangunan ini berdiri dikawasan dieng, dan masih ada juga bangunan lain seperti klenteng tempat berdoanya orang-orang “china” yang berada di kawasan kota lama.
BAB IV
SISTEM JALAN DAN RUANG
Kota malang yang kita dengar sebagai kota indah memiliki penataan ruang hujau dan struktur jalan yang berkesan, sistem jalan pada kota malang memiliki pola yang menuju kesatu pusat dengan gaya linear seperti ke arah alun-alun bunder kota maupun alun-alun tugu di kantor Balai Kota. Hal ini dilakukan agar ter-jalinnya hubungan satu sama lain dimana juga dapat mengenal nuansa-nuansa bangunan baru maupun lama yang ada disekitarny. Malang juga merupakan kota hijau dimana disepanjang jalan banyak ditumbuhi pepohonan yang berdimensi besar maupun kecil, dengan suhu yang dingin, penataan tepian jalan dengan landscape, bangunan-bangunan lama yang disebut sebagai bangunan zaman belanda “colonial” membuat malang menjadi malang kota indah.
A. Hubungan massa bangunan dengan spasial di beberapa kawasan kota Malang
Di daerah kawasan ijen penataan tiap bangunan kolonial memiliki penataan simetris dan juga bisa disebut “grid” dimana peletakan bangunan ada disekitarnya saling membelakangi dan ada yang saling berhadapan, sehingga pada tiap bangunan memiliki spasial tersendiri yang dijadikan sebagai taman.
| spasial |
| Bangunan sudut |
| spasial |
| bangunan |
Di kawasan sekitar ijen terutama bangunan-bangunan yang ada disekitarnya yang memiliki penataan yang bersifat simetris memiliki spasial berupa jalan besar dan ruang kosong hijau yang menjadi ruang untuk pejalan kaki dan ruang berupa taman (halaman) pada bagian depan bangunan, hal ini dikarenakan bangunan yang saling berhimpitan dan saling membelakangi sehingga tidak terdapatnya ruang kosong dibeberapa sisi tiap bangunan. Berbeda dengan bangunan yang berada di sudut jalan memiliki ruang yang cukup luas berupa taman dan spasial berupa jalan.
Berbeda halnya dengan penataan perumahan kampung, dalam segi penataan memiliki orientasi yang berbeda-beda meski terlihat simetris, pada tiap bangunan satu dan bangunan lain ada yang menyatu menjadi satu dinding dan ada juga yang terpisah dengan jarak yang sangat sempit “spasial” yang hanya dapat dilalui oleh satu orang saja, hal ini dapat kita lihat dikawasan sumbersari kecamatan lowokwaru. Dikarenakan lahan yang sempit ruang yang tidak mencukupi membuat pemilik tanah membangun huniannya dengan keinginan yang seenaknya saja, tanpa memikirkan sisa ruang untuk kegiatan mereka ataupun untuk open space “ruang hijau” sehingga kebanyakan di perumahan kampung spasial yang dimiliki ditiap bangunan dengan bangunan lainnya hanya berupa jalan-jalan kecil yang menghubungkan antara bangunan satu dan bangunan lainnya, dan juga jalan utama yang menjadi pintu masuk di kawasan tersebut yang mereka sebut sebagai “gang” atau lorong kecil. Hal ini bukan hanya terjadi di kawasan sumbersari, di kawasan embong brantas tau sepanjang kali brantas dan di daerah muharto juga memiliki masalah yang sama.
| Spasial spasial spasial |
| Lapangan Olahraga |
Namun diantara gang tersebut masih ada ruang kosong “lapangan olahraga” yang mereka tetapkan dimana menjadi tempat aktifitas dan rutinitas untuk ber-kumpulnya warga setempat untuk menjalin keakraban dan silahturami yang terus terikat.
BAB V
BANGUNAN DAN STRUKTUR KOTA
Kota malang merupakan kota yang cukup luas di daerah jawa timur, dengan dikelilingi beberapa kota, seperti lawang, siduarjo, Surabaya, blitar maupun probolinggu ataupun kota lainnya membuat kota malang berada di tengah-tengah yang di kelilingi banyak kota, selain kota malang juga dikelilingi oleh beberapa gunung yang terkenal di jawa Timur.
Dengan unsure-unsur yang ada dan banyak pemasukan-pemasukan dari fakar-fakar untuk membentuk kota Malang sehingga dibuat struktur kota malang sebagai struktur terpusat diaman menghubungkan dari banyaknya kawasan menuju ke satu titik pusat.
A. Bentuk dan tata ruang kota Malang
Di kota malang terdapat 2 bentuk tata ruang terpusat dengan terdapatnya sebuah alun-alun tugu yang menjadi struktur utama untuk menghubungkan beberapa kawasan ke satu titik dengan mengunakan system jalan linear terpusat sehingga titik pusat berada di tengah-tengah kota seperti halnya Malang.
Alun-alun tugu juga menjadi salah satu landmark utama kota Malang dengan dikelilingi bangunan-bangunan kolonial di era zaman belanda yang difungsikan agar kawasan tersebut dapat mencitrakan sebagai wajah dan ciri khas kota Malang. Pada zaman di era belanda alun-alun tugu ini memiliki fasade yang sangat sederhana dimana pada bagian tengahnya hanya terdapat tumpukan pepohonan kecil dan terlihat seperti taman yang dikelilingi oleh bangunan walikota, bangunan tentara dan bangunan-bangunan lainnya.
Alun-alun tugu Era Kolonial Belanda
Pada zaman belanda gambar di atas menunjukan kesederhanaan alun-alun tugu yang menjadi struktur pusat untuk beberapa kawasan.
Seiring berkembangnya zaman alun-alun tugu mengalami perubahan dengan mulai terbentuknya tugu yang berada di tengah-tengah lingkaran alun sebagai gambaran struktur terpusat menambah nilai estetik pada bentuk arsitekturalnya.
| Contoh gambar peta struktur terpusat yang berada di tengah pusat alun-alun tugu |
Selain alun-alun tugu, daerah yang menjadi salah satu struktur terpusat berada di kawasan kayutangan yaitu Alun-alun pusat kota, dimana alun-alun ini juga mempertemukan beberapa kawasan ke satu titik alun-alun.
Peta alun-alun kota dengan system jalan linear
Dapat kita lihat pada gambar di atas dengan menggunakan system jalan linear alun-alun menjadi pusat yang menghubungkan beberapa kawasan yang berada disekitarnya. Bukan hanya alun-alun kotanya saja yang memiliki criteria dan ciri khas tersendiri, disekeliling alun-alun terdapat bangunan-bangunan kolonial dan bangunan kontenporer dimana bangunan yang mengikuti era baru “modern”.
Peta dan arah struktur terpusat Alun-alun kota
B. Hubungan antara bangunan lama dengan hubungan baru (contoh munculnya beberapa ruko di kota Malang
Bangunan-bangunan lama “ruko” yang ada dikota malang pada awalnya memiliki unsur kolonial, namun dengan pemahaman dan ilmu arsitektur yang terus meningkat membuat bentuk-bentuk baru yang memiliki nilai estetik yang lebih tinggi di daerah malang terdapat bangunan-bangunan lama “ruko” yang sampai saat ini nilai keindahannya dan historis dari fasade bangunannya mulai luntur dan tidak diperhatikan lagi.
Begitu banyak bangunan-bangunan ruko yang ada di kota malang sudah berbaur dengan era modern dengan pola pikir yang ekstrim dan menentang. Salah satu contoh bangunan-bangunan ruku yang satu kawasan memiliki karakter yang berbeda yaitu bangunan lama dan bangunan baru terdapat di kawasan kayutangan.
Aktifitas di kawasan Kayutangan
Kawasan kayutangan merupakan daerah yang cukup ramai, selain jalur yang dileawati banyak angkot, kayutangan merupakan pusat perbelanjaan dan perdagangan sehingga dipadati oleh banyak penduduk, baik aktifitas pejalan kaki maupun kendaraan roda dua dan roda empat. Pada awalnya kayutangan juga merupakan kawasan dimana ditempati bangunan-bangunan kolonial belanda namun lahan yang berganti kepemilikian menjadikan lokasi tersebut berubah menjadi bagunan era baru “modern”. Dengan terus-menerus evolusi terus berjalan dan perkembangan teknologi terus naik membuat para pemilik tanah lebih mengarah ke pemikiran tersendiri demi keuntungan mereka dalam berdagang membuat pola pikir mereka semakin kuat.
Dari bangunan-bangunan lama dan bangunan baru tingkat kepedulian dan hubungannya sangat dekat era sekarang ini.
Bangunan lama “ruko tipe colonial”
Bangunan ruko yang tampak pada gambar di atas merupakan tipe bangunan ruko lama dengan gaya colonial, ruko tersebut sudah sejak lama berdiri di kawasan kayutangan, material dan fasade yang masih memiliki nilai-nilai kolonial dan masih memperhatikan gaya asal mula pada zaman colonial. Bangunan lama yang disebut sebagai ruko bukan hanya di kawasan kayutangan saja, namun masih banyak di kawasan-kawasan lain, tapi dalam hal ini salah satu keterhubungan yang ada pada bangunan lama dan bangunan baru berada di daerah kayutangan, dimana nilai arsitektur kolonial sangat kental pada fasade bangunannya. Bahan dan teknologi yang digunakan pada ornamentasi-ornamentasi bangunan ini masih sangat sederhana dibandingkan dengan bangunan-bangunan ruko baru yang memiliki perkembangan arsitektur dengan penampilan-penampilan gaya , fasade dan material yang baru.
Bangunan baru “ruko tipe modern”
Berbeda halnya dengan bangunan baru “ruko” dimana gaya arsitekturnya mengikuti perkembangan zaman atau evolusi dunia yang melaju dengan pesat. Ruko tipe contenporer atau gaya modern ini sangat berbeda jauh dengan bangunan lama, hal ini dikarenakan pola pikir kehidupan yang dalam putarannya terus berubah-ubah seiring meningkatnya ilmu pengetahuan. Tampilan-tampilan yang baru pada bangunan ini memiliki nilai-nilai yang estetik namun tidak memiliki unsur-unsur terbentuknya bangunan tersebut yang hanya mementingkan keinginan tersendiri. Bangunan lama ataupun bangunan baru memiliki keterkaitan antara permainan gaya dan fasade bangunan, namun dalam pembentukan bangunan ini memiliki perbedaan dimana masing-masing bangunan memiliki unsur-unsur yang berbeda.
BAB VI
AKTIFITAS DAN PENGGUNA
Aktifitas yang terjadi di kota Malang sangat beranekaragam gaya dan bentuknya, mulai dari kawasan satu maupun kawasan lainnya. Kegiatan-kegiatan ini sering terjadi dipusat keramaian dimana berkumpulnya orang-orang dari kawasan-kawasan di sekitar Malang.
Salah satu pusat keramaian yang sampai sekarang ini masih tetap berlanjut adalah kawasan Pasar Burung yaitu kawasan kayutangan. Suatu aktifitas yang sangat mendominasi terciptanya keramaian adalah kawasan Alun-alun kota Malang dan kawasan Pasar, dua kawasan ini tidak pernah lepas dengan keterkaitan masyarakat yang menjadi konsumtif terbesar disetiap kota.
A. Ruang umum atau open space sebagai nodus
Ruang umum atau open space yang menonjol di kota Malang terdapat beberapa yang sangat dikenal oleh warga setempat. Ruang umum ini banyak didatangi oleh warga-warga sekitar, selain menjadikan tempat untuk berolahraga, festival music, kegiatan kecil antar warga setempat, dan banyak juga yang menjadikan tempat tersebut untuk tempat bersantai maupun kegiatan yang lainnya.
Salah satunya dapat kita lihat di wilayah rampal, dimana open space ini dapat digunakan untuk seluruh warga kota malang untuk melakukan kegiatan-kegiatan besar seperti konser, pameran, dan menjadi lapangan olahraga. Lapangan rampal bukan menjadi sebagai lahan multi fungsi saja, namun ruang ini memiliki landscape dan tumbuhan hijau yang begitu hidup dan sejuk. Lapangan rampal juga menjadi satu-satunya open space atau ruang umum yang ada di kawasan kota Malang.
Selain open space umum yang dimiliki oleh kota Malang, dikawasan-kawasan kecil juga terdapat beberapa open space yang berukuran kecil yang dimiliki oleh satu ikatan warga setempat.
Gambar di atas merupakan ruang kosong atau open space yang dijadikan sebagai tempat aktifitas atau rutinitas warga setempat, ruang tersebut bukan hanya dijadikan tempat olahraga saja, tempat ini memiliki sifat multifungsi dimana warga setempat menjadikan ruang tersebut sebagai tempat perkumpulan ditiap malam, seperti olahraga footsall, badminton, acara kecil-kecilan, dan juga menjadi tempat senam untuk para ibu-ibu yang tinggal dikawasan tersebut.
Open space untuk ikatan satu kawasan ini berperan sangat besar untuk warga setempat, dimana dengan ruang umum tersebut dapat mengikat dan menjalin silahturami antar tetangga maupun satu kawasan tersebut tetap terjaga, rutinitas dan aktifitas yang tidak pernah lepas menambah keakraban dan kerjasama yang baik dalam bermasyarakat. Namun dengan kepadatan yang ada mengurangi tempat untuk penempatan tumbuhan hijau atau landscape yang dapat menambah nilai estetik tersendiri di space tersebut.
B. Uraikan dan jelaskan beberapa bangunan shopping centre di wilayah kota malang
Pusat perbelanjaan yang terbilang cukup ramai adalah shopping centre dimana bangunan ini berukuran cukup besar dan memiliki fasade yang sangat kaya dan ekstrim agar dapat menarik para konsumen ke dalam bangunan tersebut. Pasar besar yang biasa dikatakan atau dikenal sebagai Ramayana, Matahari, Mitra, Gaja Madah kini mulai terabaikan oleh masyarakat setempat, hal ini dikarenakan terlalu banyaknya persaingan antar bisnismen kota sehingga memunculkan gaya-gaya dan pola pikir yang baru dengan membangun suatu shopping centre yang dapat menyaingi usaha-usaha yang lainnya. Seperti halnya yang kita tau Malang Town Square yang kita kenal sebagai matos mampu melesat cepat menyaingi shopping centre lainnya walaupun bangunan ini berdiri sesudah MOG, hal ini juga dipengaruhi oleh zaman, pengaruh kawasan sekitar dan gaya dari bangunan itu sendiri. Masih banyak bangunan-bangunan yang baru saja resmi menjadi shopping centre yaitu @MX, namun masih belum mampu menyaingi shopping centre lainnya.
· Pasar Besar Matahari
Pasar matahari merupakan pasar terbesar atau tempat shopping centre yang pertama kali muncul di kota malang pada masa yang mulai terlepas dari era belanda, pasar matahari yang masyarakat setempat kenal sebagai pasar besar sangat berperan aktif di kota Malang, selain pada saat itu bentuknya yang cukup besar dan menarik, gedung tersebut menjadi tempat pusat utama perdagangan yang menjual kebutuhan-kebutuhan masyarakat sekitar Malang.
Pasar matahari memiliki bentuk yang masih memiliki unsur kolonial didalamnya, dengan fasade yang memiliki dimensi yang cukup besar bangunan ini masih memiliki material-material yang ada saat itu, sehingga bangunan ini masih berpacu dengan teknologi.
Didirikannya pasar matahari agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar Malang, sehingga dalam pembentukannya memiliki estetik dengan gaya baru namun masih memiliki unsur colonial, hal ini dilakukan agar membuat ketertarikan terhadap warga setempat dan diekspresiakan dalam wujud yang cukup megah. Namun berkembangnya teknologi seiring dengan pola pikir dan pengetahuan yang tiap periodenya terus berubah membuat pasar besar ini mulai terabaikan.
· Mol Olypic Garden (MOG)
Mol Olympic Garden yang dikenal sebagai MOG merupakan shopping centre yang pupularitasnya cukup tinggi dibandingkan pasar besar Mitra, Gaja Madah, Ramayana, maupun Plaza Malang yang berdiri setelah pasar Besar Matahari. Banyak usaha-usaha yang didirikan berupa shopping centre untuk menyaingi pasar besar lainnya, namun ditempat yang sama dan kualitas maupun kuantitas yang hampir sama membuat kawasan tersebut sulit untuk barsaing. Namun Mol Olympic Garden mampu bersaing dengan shopping centre lainnya, selain berada dikawasan olahraga dan berada ditempat yang cukup strategis MOG mampu mempengaruhi sifat komsumtif masyarakat setempat, sehingga mampu memberi tekanan pada pasar-pasar lainnya.
Bukan hanya ditempat yang strategis, MOG juga memumnculkan karakter tersendiri pada fasade bangunannya dengan gaya modern, dimana bangunan ini sudah menggunakan material-material baru yang telah ada saat itu yang sangat berkesan dan menarik untuk batas pandang kita. Bangunan ini juga membuka luas pandangan keluar dari arah dalam untuk menikmati potensi disekitarnya, seperti lapangan gajayana dan lapangan olahraga lainnya. Pada era modern saat itu dan persaingan mulai tinggi membuat banyaknya gedung-gedung baru yang dibangun untuk menyaingi shopping centre lainnya.
· Malang Town Square (Matos)
Pada saat melesatnya shopping centre MOG, dibangunlah MATOS, dimana shopping centre ini dapat menyaingi pasar besar yang sudah ada dan terutama MOG, pesatnya persaingan membuat pola pikir dan dunia politik di kota Malang mulai luas. Dengan menempatkan matos di tempat yang strategis dimana berada di kawasan pendidikan membuat bangunan ini menjadi pusat perhatian lingkungan sekitar.
Pengaruh dan dampak positif maupun negative sangat besar dimiliki oleh bangunan ini “Malang Town Square”. Hal ini dikarenakan pembangunannya berada disekitar kawasan pendidikan dimana dapat mempengaruhi dampak negative yang besar terhadap lingkungan sekitar, namun Malang yang mulai menjadi dunia politik yang mulai meluas membuat Matos tetap berdiri dikawasan tersebut. Tempatnya yang berada dikawasan pendidikan telah mempengaruhi para pelajar dan mahasiswa yang ada disekitar dapat bergaul dengan bangunan tersebut.
Selain itu, matos juga menyediakan perlengkapan dan kebutuhan yang sama yang disediakan shopping centre atau pasar besar lainnya. Jika dilihat dengan mata telanjang, matos memiliki fasade dan ornamentasi yang hampir sama dengan MOG, jika dilihat dan dirasakan, bangunan MOG memiliki luasan yang cukup besar dan memiliki ketinggian lantai yang lebih dari Matos. Namun persaingan antara Matos dan MOG dipengaruhi oleh kawasan dan lingkungan sekitar sehingga sampai saat ini yang sangat dikenal dan diminati banyak pendatang maupun warga malang sendiri adalah Malang Town Square. Dari konsumen atau mayoritas terbanyak yang meminati shopping centre ini adalah Mahasiswa dan Pelajar.
· Shopping Centre @MX
Shopping Centre yang terakhir di bangun pada tahun 2010 yang bersampinan dengan Matos “Malang Town Square” memiliki gaya dan karakter tersendiri. @MX lebih cenderung ke arah fasade dan material maupun ornamentasi yang dapat menarik perhatian lingkungan sekitar. Bentuk bangunan ini sendiri lebih mengarah ke arah modern dimana ditujukan untuk mampu menjatuhkan tetangga “matos” dengan membuat estetik pada bagian depan @MX sangat menarik dengan pengguanaan material dan pemikiran unik agar lebih berkesan terhadap aktifitas yang sering terjadi disekitarnya.
Namun, sampai saat ini @MX belum mampu mempengaruhi lingkungan sekitar, hal ini mungkin disebabkan warga setempat yang sudah terbiasa dan telah lama bergaul dengan Matos “Malang Town Square” sendiri. Jika kita sepintas, @MX memiliki penataan dan gaya yang sangat menarik dibandingkan dengan Matos, struktur dan bahan yang digunakan juga lebih spesifik dan estetik, tapi sampai saat ini keadaan belum berpihak terhadap Shopping Centre @MX.
BAB VII
KUALITAS VISUAL
Berbicara mengenai kualitas visual yang ada kota Malang, banyak sekali bentuk-bentuk dan objek-objek ditiap kawasan yang memiliki nilai estetik yang unik dan suatu penampilan yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya. Namun ada juga beberapa kawasan yang mencoba untuk mengimbangi suatu tampilan-tampilan baru yang berbeda di kawasan tertentu. Kualitas visual dapat beruba objek yang beranekaragam karakter, fasade, cirri khas maupun fungsinya, hal-hal ini dapat berupa gunung, pohon, bangunan, ataupun bentuk lain yang mampu membuat para pengamat terkesan dan terkejut atas kehebohan atau keunikan dari estetika suatu bentuk dari objek tersebut.
A. Landmark Kota Malang
Dalam pembahasan kali ini dimana kita harus memahami bahwa suatu keunikan yang dapat mencitrakan suatu kawasan dengan tampilan yang dapat memberi kesan lain terhadap pengamat, dimana dalam hal ini pengamat merasakan hal yang membuatnya terkesan atau terkejut dengan karakteristik yang menarik. Hal ini dapat dikatakan sebagai “landmark”,namun suatu lendmark dapat mewakili satu kawasan dan semua kawasan atau kota Malang sendiri. Dalam hal ini landmark dapat dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu Big Landmark yang menjadi objek visual utama yang mencitrakan semua kawasan yang ada dalam satu kota dalam hal ini adalah Malang sendiri, Landmark Kawasan yang menjadi suatu face dari kawasan kecil yang mengekspresikan gaya dari lingkungan kawasan tersebut, dan ada pula suatu objek-objek kecil yang dapat dikatakan kategori lendmark kecil dimana objek ini mampu memberikan informasi atau tanda pengenal dengan bentuk dan karakteristiknya berbeda dengan objek yang ada disekitarnya, hal ini dapat berupa pohon, jembatan, maupun batu besar yang ada dalam suatu kawasan kecil.
Landmark kota malang sendiri yang menjadi pusat utama yang terdapat di kawasan kota baru yang berdekatan dengan stasiun kota baru.
Landmark ini dikatakan sebagai alun-alun tugu dimana dibentuknya alun-alun bunder yang dapat menyaingi alun-alun kota yang pada mulanya merupakan alun-alun pusat kota, namun dengan dipindahkannya pusat pemerintahan terutama bangunan Balai Kota sehingga dibuatlah alun-alun tugu sebagai pusat utama di daerah kota Malang.
Alun-alun tugu
Pada mulanya alun-alun tugu merupakan sebuah taman kecil yang bunder namun dengan keberadaannya Balai Kota sehingga di-kembangkanlah bentuk dan nilai karakterisitik, dengan penataan taman, ornamentasi dan material dan struktur jalan kecil yang ada didalamnya dari alun-alun itu sendiri dengan bangunan-bangunan kolonial yang ada disekitarnya sehingga mampu mencitrakan karakteristik kota Malang.
Salah satu yang menjadi landmark kota malang sebelum alun-alun tugu yang menjadi alun-alun utama kota yang berada dikawasan kayutangan kini menjadi Alun-alun kota ke dua dari alun-alun tugu pusat.
Alun-alun kota
Alun-alun kota merupakan landmark utama kota Malang sebelum dipindahkannya pusat pemerintahan di kawasan alun-alun tugu, namun alun-alun kota ini tidak kalah jauh dengan alun-alun tugu, selain bentuknya berdimensi besar dan cukup luas landmark ini juga ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan vegetasi lainnya membuat landmark semakin estetik. Alun-alun kota juga berada di tempat yang cukup strategis, dimana kawasannya merupakan area perdagangan dimana hampir seluruh warga kota Malang mendatangi tempat itu sehingga hampir tiap harinya aktifitas di kawasan terebut sangat ramai dan telah dikenal oleh warga Malang, sehingga alun-alun kota sering dipenuhi orang-orang ingin bersantai sebagaimana salah satu fungsi dari alun-alun kota tersebut.
Beberapa objek yang menjadi landmark kawasan adalah “Fly Over” yang berada di kawasan kota lama, dimana merupakan salah satu jembatan gantung yang memiliki dimensi besar yang telah cukup lama berdiri dengan jalan kereta api yang melintang memotong jalan tepat di bawah flay over selain flay over yang berada dekat dekat dengan terminal Arjosari.
Masjid yang memiliki bentuk yang unik dan memiliki dimensi yang cukup besar, warna yang sangat mencolok dari bangunan sekitar mejadi salah satu bentuk visual dari landmark kecil yang ada di kawasan perumahan kecamatan Kedung Kandang ini.
Salah satu contoh Landmark kecil untuk kawasan sawojajar dengan gapura dimana pintu masuk perumahan sawojajar dengan dimensi bentuk yang cukup besar.
B. Skey Line beberapa penggal Jalan di Wilayah kota Malang
| Bangunan KFC |
| Bank BCA |
| Gedung sarina |
| Salah satu skey line di beberapa penggal jalan yang berbentuk jalan Linear yaitu jalan Jend. Basuki Rahmat menuju ke Alun-alun kota, dimana pada tiap penggalan sudut jalan ini terdapat bangunan sudut verticaldan horizontal dengan dimensi yang besar dan ciri khas dan karakter tersendiri |
| Kantor PLN |
| Gereja kayutangan |
PENUTUP
Setelah memahami dan melakukan pengkajian ditiap kawasan kota Malang, dengan melakukan penelitian kecil dengan mengambil gambar-gambar yang ada disekitar Malang, dapat kita ketahui bahawa kota Malang merupakan kota yang memiliki ciri khas tersendiri dan budaya yang sampai saat ini masih tetap dipertahankan. Symbol yang tidak pernah terlepas dan terus melekat di kota Malang adalah bangunan-bangunan kolonial dan penataan jalan dan ruang-ruang kosong atau open space yang terus ada sampai saat ini, bentuk yang terus dipertahankan dan terus dilestarikan membuat kota malang menjadi kota yang estetik. Seiring berkembangnya zaman dan evolusi dunia yang terus berputar membuat kota malang mulai terabaikan terutama dalam segi pembangunan dan budaya itu sendiri.
Dengan itu, banyaknya bibit-bibit arsitek baru di kota Malang perlu mengetahui sejarah perkembangan Malang sebelumnya dan memamahi budaya dan ciri khas kota Malang yang mulai lepas seiring berkembangnya zaman. Dengan bekal ilmu dan pemahaman arsitektur yang dimiliki kita dapat mempertahankan dan terus melestarikan ciri khas kota malang yaitu dengan era kolonial yang berlanjut sehingga tidak lagi menjadi bangunan-bangunan kolonial tua yang tak diperhatikan lagi, dan karakter budaya yang harus disosiolisasikan dengan wujud arsitektur maupun kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang perekonomian di kota Malang.
DAFTAR PUSTAKA
Handinoto & Soehargo, P.H. (1996). Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang. Surabaya: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Kristen PETRA
Passchier Cor (1945). Peneliti arsitektur dan peninggalan bersejarah perkotaan di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian Warisan Arsitektur, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI)
Sarwono, Sarlito, W. 1995. Psikologi Lingkungan. Jakarta: Gramedia.
BAPPEKO. (2005). Studi Membuat Kriteria Karakter Desain Bangunan Berarsitektur Lama/Kuno atau Bersejarah. Laporan Fakta dan Analisa. Malang: Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. (Tidak dipublikasikan).
Habib, A., & Sukmana, Oman. 2002. Model Interaksi Sosial dalam Lingkungan Bauran Etnis Arab-Jawa: Studi di Kampung Embong Arab, Kota Malang). Malang: Lemlit UMM.